Mengapa Harus “Ribet“

Ya..judul itu “ribet”. Kenapa ya…Memang kata “ribet” identik dengan kesengsaraan. Enak yang gampang malah milih yang “ribet”. Enak yang santai, ngapain juga harus “ribet”. Ya..akhirnya kata-kata itu menjadikan psikologi seseorang semakin terpendam dalam. Susah, repot, capek…dan teman-teman sejenisnya.He..2x
Meminjam kata-kata para pejuang tangguh dalam bidang marketing “lebih baik menghadapi benda hidup daripada benda mati”, yang arti umumnya kalo boleh disimpulkan menghadapi benda hidup itu lebih banyak perkembangannya, sedangkan kalo menghadapi benda mati ya..stagnant tidak bergerak. Terjebak dalam rutinitas yang jenuh, minim inovasi, kreasi dan prestasi. Hidup dalam suatu ruangan yang tidak bisa berkembang. Seperti katak dalam tempurung.
Reinaldi Kasali, Guru Besar Universitas Indonesia, dalam artikel di Koran Jawa Pos, menjelaskan bahwa mahasiswa saat ini mempunyai karakter growth mindset dan fixed mindset. Karakter fixed mindset adalah sifat yang puas dengan perolehan nilai dan IPK yang tinggi. Semakin besar nilai IPK yang didapat semakin dapat memperoleh pekerjaan. Berbeda dengan mahasiswa growth mindset, yang semakin berkembang dengan pengalaman dan keinginan untuk terus maju. Mari menengok Steve Jobs yang mempunyai IPK 2,65. Pendiri Facebook yang tidak lulus kuliah, pendiri Primagama yang hanya lulusan SMA saja..Mereka adalah karakter yang selalu berkeinginan untuk terus maju.
Orang-orang itu adalah orang-orang yang telah melewati masa ribet. Mengolah masalah menjadi sebuah peluang. Membuka pintu yang tertutup dengan kunci semangat.
Ribet itu telah diatur oleh ALLAH SWT. Setiap masalah pasti membutuhkan jalan keluar yang berbeda-beda. Semakin ribet semakin kita mendapatkan pengalaman dan ilmu untuk terus menjadi yang lebih baik daripada kemarin