Guru Belajar Dari Pengamen Bus Kota

Oleh: Ustadz Ari Sutikno, S.Pd (Kepala Sekolah Kreatif SMP Muhammadiyah 18 Surabaya)

0Cuaca sore 1 Syawal 1433 H itu di dalam bus kota jurusan Terminal Purabaya-Perak begitu pengab. Asap berputar-putar mengitari seluruh isi bus. Seakan tidak ingin keluar, asap putih yang berasal dari beberapa perokok di dalam bus terus saja menyapa hidung seluruh penumpang. Setidaknya ada 6 perokok di area yang memang “kelihatannya” diperbolehkan untuk merokok karena memang tidak tertempel larangan merokok di dalam bus tersebut. Warga Surabaya memang masih belum terbiasa dengan peraturan larangan merokok di umum, jadi apabila tidak ada brosur peringatan maka syah-syah saja untuk merokok di tempat umum.

Sebelum bus berangkat, penjual makanan dan mainan hilir mudik menawarkan barang dagangannya. Harganya pun tergolong cukup murah mulai 5000 rupiah sampai 20.000 rupiah, tentu dengan jenis yang bervariasi juga mulai pisau cukur sampai mainan dengan lampu berwarna-warni. Strategi penawarannya pun masih cukup “jadul” dan cukup manjur. Para pedagang tersebut meletakkan dan memberikan kepada penumpang yang ada di dalam bus. Hampir setiap penumpang di barisan kursi diberikan barang dagangan mereka. Tanpa takut kehilangan.

Waw strategi yang mengedepankan kepercayaan itu cukup manjur. Calon pembeli lebih mudah melihat kualitas barang dagangan, sedangkan pedagang mendapatkan kepercayaan dari para konsumen. Banyak dari para penumpang tersebut yang akhirnya membeli. Murah meriah hemat.

Di sela-sela perjalanan, seorang pengamen berdiri di tengah bus. Pengamen yang cukup berumur, sekitar 50 tahunan. Meskipun bajunya tidak bagus, tetapi kemeja yang dikenakannya cukup rapi. Dengan topi yang menutup kepalanya, semakin menambah rapi busananya. Gitar yang dipegangnya pun akhirnya dipetik. Suaranya keras seiring suara pengamen yang lantang, seperti berusaha untuk menyamai penyanyi asli Ebit G Ade. 3 lagu karangan sang legendaris pun dinyanyikan dengan semangat. Cukup menyenangkan untuk didengar dikala perjalanan yang jauh dan penuh sesak asap rokok.

Semula saya mengira pengamen ini sama dengan pengamen pada umumnya. Suara bukanlah jadi masalah. Meski sengau, serak atau bahkan ga jelas, seorang pengamen yang penting dapatlah bekerja. Maklum suara mereka telah tervorsir dari pagi sampai sore hari. Tapi pengamen ini tetap “menjual kualitas” tanpa harus mempertimbangkan upah yang akan di dapat. Profesi pengamen tidak mengurungkan niatnya untuk menyanyi dengan hati. Ya…dengan hati.

Pengamen ini telah memberikan suatu contoh tentang etos kerja yang semangat, kualitas yang menyala, dan tidak kenal menyerah. Masih banyak profesi kecil yang dapat memberikan contoh tentang keteladanan kerja bangsa kita. Bravo Indonesia…!